Warga Sehat Desa Bebas TBC(ASET DEBAT) Di Desa Pejambuan Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar
Healthy Residents, TB-Free Village (ASET DEBAT) in Pejambuan Village, Sungai Tabuk Subdistrict, Banjar Regency
DOI:
https://doi.org/10.33859/pkmmatang.v4i1.1537Kata Kunci:
Jamu, Tuberculosis, TemulawakAbstrak
Tuberculosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada beberapa kasus, infeksi ini dapat menetap dalam keadaan laten sebelum berkembang menjadi tuberkulosis aktif jika sistem kekebalan tubuh melemah. Berdasarkan data prevalensi tahun 2020 didapatkan jumlah pasien TB Paru di Kalimantan selatan sebanyak 6.616, tahun 2021 sebanyak 4.140 sedangkan pada tahun 2022 terjadi peningkatan kembali menjadi 6.736. Tahun 2023 di Desa Pejambuan terdapat 2 orang positif tuberculosis dan 30 orang suspect tuberculosis. Pada tahun 2024 didapatkan 1 orang positif tuberculosis dan 16 orang suspect tuberculosis. Temulawak memiliki khasiat dalam meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu makan imunodilator dan hepatoprotektor dan sebagai anti radang. Solusi yang dapat diberikan yaitu dengan melakukan program “Pembentukan dan Pengembangan Warga Sehat Desa TBC “(ASET DEBAT)”.Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk warga sehat desa pejambuan bebas tuberculosis (TBC) dengan tanaman temulawak, meningkatkan pengetahuan kesehatan tentang gejala tuberculosis, memberikan edukasi mengenai penyakit tuberculosis di Desa Pejambuan.Kegiatan ini dilakukan di Desa Pejambuan Kecamatan Sungai Tabuk 1 Kabupaten Banjar selama 1 bulan (08 Januaari-04 Februari 2025).Kegiatan yang dilakukan berupa penyampaian edukasi terkait TBC agar warga sehat desa bebas TBC (ASET DEBAT) dan terapi komplementer tanaman obat herbal temulawak untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengolah menjadi minuman instan siap minum (jamu). Media edukasi yang digunakan adalah menggunakan leafleat dan handbook. Semoga kegiatan ini memberikan kontribusi yang bermakna bagi peningkatan informasi kesehatan dan kesadaran masyarakat dalam mencegah TBC dan membudidayakan tanaman temulawak untuk membangun imunitas warga.
Referensi
Jaya, T., Basit, M., Wijaksono, M. A., & Rahman, S. (2024). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Remaja Sekolah Sebagai Upaya Optimalisasi Pengendalian Tuberkulosis Di Banjarmasin. Nursing Science Journal (NSJ), 5(2), 158-168.
Kurnia, Nina., Fitri, Nury. Lutfiyatil., & Purwono, Janu. 2021. “Penerapan Fisoterapi Dada Dan Batuk Efektif Untuk Mengatasi Ketidakefektifan Bersihan Jalan NapasPada Pasien Tuberkulosis Paru”. Jurnal Cendikia Muda, vol.1, no.2: 204–208.https://www.jurnal.akperdharmawacana.a
Mardiono, S., Saputra, A. U., & Romadhon, M. (2023). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Peran Keluarga Dalam Pengawasan Menelan Obat Pada Pasien Tuberkulosis Paru. Jurnal Kesehatan Terapan, 10(1), 7-28.
World Health Organization. (2023). Global Tuberculosis Report 2023 Geneva: WHO.
Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular. (2023). Panduan Nasional Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Petunjuk Teknis Tata Laksana Tuberkulosis Anak dan Remaja Indonesia Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023).
BPS Kalsel. (2019). Kalimantan Selatan dalam Angka 2019. Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan.
Yamsudin, R. A. M. R., Perdana, F., & Mutiaz, F. S. 2019. Tanaman Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb) Sebagai Obat Tradisional. Jurnal Ilmiah Farmako Bahari, 10(1), 51-52.
Prakoso, H. H., Setiawan, A., & Sadewa, D. 2020. Terapi Obat Tuberkulosis. Temu Ilmiah Nasional, 1–7. diakses pada tanggal 26 september 2024.
